Meet Arif: Hidup dengan Makna Punk-nya Sendiri
Pembuka dari seri blog ini adalah sebuah sesi perkenalan dengan Arif, seorang remaja laki-laki 19 tahun yang aktif berkegiatan dalam skena skateboard di skatepark yang ada di bawah jembatan Pasupati Bandung. Tak semata asyik memainkan papannya, Arif berkontribusi dalam misi mencetak pemain-pemain skateboard hebat jebolan “kolong”, sebutan untuk skatepark di bawah Pasupati. Arif biasa melatih muridnya dari berbagai usia, gender, serta level beginner - intermediate. “Aku tuh ngajar selain untuk uang tambahan, karena aku udah gak dibiayain orang tua lagi, aku ngerasa puas dan bangga kalau murid aku jadi pada bisa. Bahkan ada yang tadinya penakut banget, sekarang udah bisa berani drop in sendiri dan mau nyoba trick ini itu.”, jelas Arif dengan antusias. Arif memang rutin datang ke skatepark Pasupati. Ia bersedia membantu para muridnya yang datang di luar jadwal latihan, tanpa tambahan biaya apa pun.
Arif biasa memulai harinya di jam 5 subuh dan mengakhirinya di jam 11 malam. Di waktu-waktu itu, Arif sudah menyusun jadwalnya sedemikian rupa agar segala prioritasnya bisa terpenuhi. Ia harus membagi waktu antara kehidupan sosial, cinta, kuliah, serta usahanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam usahanya ini, selain mengajar skateboard, Arif bekerja paruh waktu di sebuah resto pizza dan juga menjalankan bisnis. Bisnis yang ia tekuni adalah jual-beli papan skateboard serta perintilannya, streetwear clothing, dan juga sewa papan skateboard yang dibanderol 15.000 rupiah per jamnya. Bisnis ini bernamakan TUP (Triumph Under Pressure), ia jalankan bersama kakak laki-lakinya, Hadi. Selain Hadi, ia juga menjalankan bisnis tersebut dengan pamannya, yang biasa dipanggil om Firman. Om Firman adalah sosok yang mendorong Arif untuk mencoba berkenalan dengan skateboard ketika Arif masih duduk di kelas 2 SMK. Alih-alih mencobanya, Arif memutuskan untuk menekuninya.
Saya yang mendengar segala rentetan kegiatan Arif di usianya yang muda itu, hanya bisa mengingat kembali akan masa muda yang saya jalani tanpa banyak hal positif yang saya buat. Seraya ia menjelaskan tentang prinsipnya yang selalu mengutamakan hal yang bermanfaat untuk dirinya, tentu saja dalam artian yang baik. Menurut saya, Arif adalah sosok yang sangat lepas dari stereotype anak skateboard pada umumnya dan Arif pun mengamini itu. Misal dalam pandangannya akan rokok dan minuman keras. Di tengah kepungan asap rokok di tongkrongannya, Arif tetap berpegang teguh kalau rokok tidak ada manfaatnya sama sekali untuk tubuhnya. Serta ia tidak pernah merasa tertarik dengan minuman keras, lagi-lagi juga karena menurutnya tidak memiliki manfaat.

Selain kagum akan prinsip yang Arif pegang, saya juga bertanya-tanya apakah mungkin Arif pernah lelah akan semua itu? Atau justru ia menikmatinya? “Capek mah pasti. Tapi selalu ada hal yang bikin aku back on track. Selain keluarga, karena aku juga membantu sedikit perekonomiannya, yaitu selalu bersyukur.” Oke, mendengar pernyataan “bersyukur” itu agak klise. Tapi kemudian Arif melanjutkan, “Gak semua orang bisa dapetin kayak yang aku punya sekarang; bisa dapat uang dari hal yang aku suka. Banyak di luar sana yang susah cari kerja, bahkan ada yang terpaksa nyari uang padahal dia gak suka sama bidang yang dia kerjain sama sekali.” Kalimatnya cukup sederhana, tapi bermakna dalam karena kita hidup di era yang jika kita mau bertahan hidup, pilihan kita tidak banyak. Di luar sana, bahkan banyak orang yang rela melakukan hal yang jelas-jelas bertentangan dengan kompas moralnya hanya demi bertahan hidup. Kita tak pernah membayangkan bahwa kejadian seperti itu sekarang sangat dekat dengan hidup kita. Bahkan mungkin saja kelak kita kebagian gilirannya.
Seperti penutup wawancara pada umumnya, saya pun bertanya pada Arif, harapan apa yang ia punya untuk masa depannya. Dengan segudang kesibukan yang menyita waktu leha-leha di masa mudanya, saya mengira Arif akan menyebutkan harapan akan sebuah kesuksesan besar (re: kaya raya). Kemudian Arif mengatakannya, “Aku cuma pengen teman-teman aku di skena skateboard kolong sini, yang udah pada jago, bisa ikutan ngajar para pemula juga. Soalnya kan sekarang yang ngajarnya cuma dikit. Selain bisa nyetak lebih banyak pemain skateboard, lumayan juga bisa nambah-nambah pemasukan mereka. Aku juga pengen clothing aku ini lebih dikenal banyak orang. Semoga suatu saat ada orang yang bisa nge-marketingin barang dagangan aku. Biar lebih banyak dikenal orang, bukan cuma sama anak-anak di sini aja.” Arif bisa dikatakan jauh dari stereotype “punk” yang berkaitan erat dengan budaya skateboard. Tapi Arif menghidupi makna “punk”-nya sendiri. Kemudian wawancara pada malam itu berhenti sampai di situ. Arif kembali ke arena skatepark, membantu para pemula dalam bermain skateboard meski pun itu bukan jadwal mengajarnya.